Seputar Kristenisasi

[Kristenisasi][bleft]

Seputar Syiah

[Syi'ah][bsummary]

Seputar Liberal

[Liberal][twocolumns]

Jebakan Pluralis Lewat Hemeneutika Surat Al-Fatihah

(Qodisiyah.com) Menarik melihat salah satu tulisan seorang tokoh besar Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla di sebuah web yang mengusung pahamnya tersebut. Tulisan itu berjudul “Kenapa Al-Fatihah?” (Ta’ammulat Qur’aniyyah 1), 26 Juni 2016 yang lalu. Dia menyatakan bahwa ta’ammulat ini terlintas setelah ia pulang dari sebuah acara buka bersama di sebuah kawasan di Menteng bersama seorang ‘pemikir muslim’ Amerika Amina Wadud.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa salah satu cara ‘jaringan’ ini meliberalkan umat muslim adalah dengan menyerang kitab sucin Al-Qur’an dengan metode Tafsir Hemeneutika. Sebuah metode kritis yang diarahkan kepada Al-Qur’an arahkan adalah hasil plagiat, dari apa yang dilakukan terhadap Bibel. Memang motode ini sudah memberikan hasil yang memuaskan saat mereka mencobanya untuk Kitab Bibel, namun tidak pada Al-Qur'an.

Pesatnya studi kritis Bibel dengan metode hemeneutika itu, telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” Al-Qur’an dan mengarahkan hal yang sama terhadap kitab suci umat islam. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan bahwa, “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap Kitab Suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan Kitab Suci Kristen yang berbahasa Yunani”. (Liberalisasi Islam di Indonesia, Dr. Adian Husaini, cet. Gema Insani)

Agaknya cara itu juga sudah mulai dipakai oleh ‘kaum’ itu untuk memuluskan niatannya. Dalam banyak tulisannya, mereka menggiring pembaca untuk perlahan kritis terhadap Kitab Sucinya dan juga dengan cara menafisrkan dan memahami Al-Qur’an dengan pahamnya sendiri. Tidak jarang juga mereka menyalah-nyalahkan ulama-ulama Tafsir dalam penafsirannya, karena dianggap tidak searah dengan maksud dan tujuan mereka. Dan nyatanya, cara-cara itu cukup banyak membuat para pembaca tulisan-tulisan mereka angguk-angguk ‘nurut’. Dengan sedikit polesan bahasa yang cukup santun, mereka membawa pembaca kepada pemikiran dan tafsiran mereka sendiri tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Terdapat sebuah kata yang menarik perhatian saya, Ulil berkata. “Surah ini disebut demikian karena dia menjadi semacam “bab” pembuka bagi kitab yang belakangan disebut sebagai Qur’an.” Di sini penulis mengatakan bahwa Al-Qur’an itu baru disebut Al-Qur’an di masa-masa belakangan ini. Sebuah pernyataan bodoh dari orang yang katanya sudah menyandang gelar sarjana dalam bidang agama.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Q.S.Al-Baqarah :185)

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S.Al-A’raf:204)

Keraguan mereka akan penamaan ini dikarenakan buah dari kurang percayanya mereka terhadap sejarah pembukuan Al-Qur’an dan penulisannya. Dan ini juga yang kemudian banyak disuarakan ke tengah-tengah umat, berharap cara ini (Hemeneutika Al-Qur’an) dapat merubah Al-Qur’an atau maknanya, atau juga melemparkan keraguan-keraguan akan Kitab Suci yang sudah Allah jamin akan kebenarannya (Q.S. Al-Hijr:09).

Secara umum, Ulil dalam tulisannya ini mengarahkan pembaca untuk menjadi umat yang ‘terbuka’, atau dengan bahasa penulisnya, “Inklusif”. Dalam tulisannya ini, ia mencoba menjelaskan maksud surat yang agung ini dengan pemikiran dan makudnya sendiri. Dimulai saat ia mencoba menjelaskan makna Al-Fatihah. Ia menulis,

 Adalah menarik bahwa surah ini disebut Al-Fatihah. Kata ini, secara harfiah, artinya adalah pembuka. Kata “fatihah” berasal dari kata kerja “f-t-h” (fataha) yang artinya adalah membuka sesuatu.To open. Kata Fatihah bisa diartikan sebagai“theopener” dalam pengertian “pembuka”, sesuatu yang membukakan sesuatu yang lain. Saya langsung terpikir tentang kata “to include” dalam bahasa Inggris, atau kata turunannya:inclusive. Dalam bahasa Indonesia, kita memakai kata ini: “inklusif”. Sungguh menarik bahwa surah pertama dalam Qur’an disebut sebagai Al-Fatihah yang maknanya ialah: “membuka”. Saya memaknai Al-Fatihah sebagai ajakan untuk mengembangkan sikap membuka diri, inklusif.


Saya katakan, tafsiran ini sangat dipaksakan dan sangat mengada-ngada. Kemudian mari kita lihat penafsiran para ulama tentang penamaan Al-Fatihah ini. Imam As-Syaukani dalam kitabnya Fathul Qadhir menyebutkan :

“Surat ini disebut sebagai ‘faatihatul kitab’ karena dengannya kita ini dibuka dan pertama kali ditulis di dalam mushaf dan yang pertama kali dibaca oleh yang membaca Al-Qur’an” (Fathul Qodhir, Imam As-Syaukani, cet. Dar al-wafa’)

Disebut Al-Fatihah, pembuka al-kitab (Al-Qur’an), dengannya dimulai bacaan dalam shalat. Surat ini juga disebut dengan nama yang lain, seperti ummul kitab,, as-shalah (shalat) karena ia menjadi syarat sahnya shalat, ummul qur’an, as-sab’ul matsani, as-syifa’ (obat), al-kafiyah karena ia dicukupkan dengan yang selainnya. Imam Bukhari pada awal kitab at-Tafsir: disebut ummul kitab, karena dengannya dimulai penulisannya di dalam mushaf dan awal yang dibaca ketika shalat. (Tafsir Al-Qur’anul ‘azim, Imam ibn Katsir, cet.dar Ibnul Jauzi)

Kemudian Ulil melanjutkan ;

Umat Islam diajarkan untuk memulai segala sesuatu dengan membaca basmalah. Formula ini mungkin merupakan kalimat yang paling sering diucapkan oleh umat Islam setiap hari. Sekurang-kurangnya, mereka membaca kalimat ini tujuh belas kali dalam sehari semalam, yakni pada saat salat. Kalimat ini mengandung ajaran ketuhanan yang penting. Dalam basmalah terkandung konsep teologis tentang Tuhan yang menjadi sumber kasih dan rasa sayang. Kita bisa mengatakan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang menjadi sumber dari cinta (mahabbah) dan kasih sayang (rahmah).The God of love and compassion. Ilahu mahabba wa rahma.

Konsekwensi cinta dan kasih sayang adalah:mindset of openness and reaching-out to others. Cinta, kasih sayang, rahmah membawa implikasi dalam bentuk sikap-sikap sosial yang khas: membuka diri, lapang dada (insyirah al-shadr; ingat surah nomor 94:al-Syarh), inklusif. Bukan menutup diri dan bersembunyi di dalam kotak tempurung, curiga pada yang lain.

Disini perlahan Ulil mulai membawa pembaca untuk menjadi umat yang bisa terbuka dengan yang lain, tanpa menghakimi bahwa ia benar atau salah. Atau dengan bahasa lain, memandang bahwa ada kebenaran di luar agama Islam. Dengan ini, Ulil mulai mengajak kita untuk dapat menerima sikap pluralisme dan ‘ajarannya’.

Kemudian menarik saat ia mulai menjabarkan pemahamannya tentang ayat keenam dan ketujuh dan menerjemahkannya dengan terjemahan HB Jassin dalam Bacaan Mulia;

(Bimbinglah kami ke jalan Yang lurus lempang, Jalan orang-orang yang telah Kau beri nikmat, Bukan orang yang kau murkai, Dan bukan orang yang sesat jalan)

Karena kita sekarang hidup di era dimana kecenderungan takfir dan saling menyesatkan di kalangan umat Islam sedang meruyak di mana-mana, di Indonesia dan juga di negeri-negeri lain; karena kita sedang hidup dalam “the age of takfir”, pertanyaannya adalah: Apakah ayat ini bisa dibaca sebagai ajakan untuk saling menyesatkan? Hanya gara-gara ada kata sesat di sana? Saya mengatakan: Tidak! Ayat ini mengandung makna yang subtil, halus. Di sana, kita diajarkan untuk memohon kepada Tuhan agar kita diarahkan ke jalan yang (dalam terjemahan HB Jassin yang sangat saya suka) “lurus lempang”.

Artinya apa? Wewenang untuk menentukan apakah sebuah jalan itu lurus-lempang atau tidak, ada pada Tuhan. Tugas kita sebagai manusia, paling jauh, ialah memohon saja kepada Tuhan agar ditunjukkan arah ke sana. Bukan wewenang kita untuk menyesatkan orang lain, untuk menganggap orang lain kafir, syirik, murtad, bid’ah, dan sebagainya. Sikap saling menyesatkan dan mengkafirkan di antara sesama umat Islam sangat berlawanan dengan semangat Al-Fatihah yang mengajak kita untuk bersikap “membuka diri”, membangun jembatan.

Sebuah pemahaman yang tidak berdasar, dituliskan oleh Ulil dengan sangat jelas dan kata yang tersusun rapi dan indah. Padahal jika kita mau sedikit saja membaca tentang penafsiran para ulama tentang maksud ketujuh ayat dalam surat ini, tidaklah kita dapatkan bahwa terdapat di dalamnya kandungan yang sangat besar dan agung. Di dalamnya terdapat petunjuk untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang pantas dipuji, diharapkan rahmat-Nya di hari akhir dan pembalasannya, Dia-lah yang sapatutnya dimintai dalam semua permintaan dan permohonan, dan kepada-Nya seharusnya kita memohon dijauhkan dari dua golongan manusia yang sudah banyak berbuat kecurangan dan kesalahan di dunia ini.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, tunjukkan kami bimbing kami dan berikan kami taufiq untuk berjalan di jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas menyampaikan kami kepada Allah dan surga-Nya, dengan pengetahuan yang benar dan amalannya, tunjukilah kami kejalan itu. Hidayah ke jalannya adalah dengan tetap pada agama Islam dan meninggalkan agama yang lain. Hidayah di jalannya, meliputi semua hal-hal dalam agama dalam ilmu dan juga amal. Dan hidayah di jalan-Nya adalah Islam, karena Islam merupakan agama yang diridloi-Nya, dan Allah tidak meridloi sesuatu kecuali yang benar, lihat surat Ali Imron ayat 19.

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada’ dan orang-orang shaleh. Bukan (jalan) mereka yang dimurka, yaitu mereka yang mengetahui kebenaran dan meninggalkannya, seperti orang-orang Yahudi dan semisalnya. Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat, yaitu mereka yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan, seperti orang-orang Nashrani dan semisalnya. (Tafsir al-karim ar-rahman fii tafsiri kalamil mannan, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Sudah jelas dalam ayat ini, Allah menyuruh kita memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari jalan-jalan mereka yang dimurka dan jalan-jalan mereka yang sesat. Itulah jalan mereka yang mendurhakai rasul-rasul-Nya dan membunuhnya, itulah jalan mereka yang mengatakan Allah memiliki anak dan Allah itu tiga. Mereka yang melencengkan ayat-ayat Allah dan merubahnya. Allah sendiri lah yang memberikan mereka lebel ‘murka’ dan ‘sesat’, apakah kemudian kita mengatakan bahwa mereka sama dan berada dalam kebenaran seperti orang-orang mukmin?. Allah yang memvonis mereka sebagai sesat dan terlaknat, apakah lantas kita mengingkarinya dengan dalih pluralisme?. (HY)
Ingin publikasikan tulisan di QODISIYAH.COM? Klik di sini!

No comments: