Seputar Kristenisasi

[Kristenisasi][bleft]

Seputar Syiah

[Syi'ah][bsummary]

Seputar Liberal

[Liberal][twocolumns]

Jalinan Mesra Antara Pemikiran Barat dan Liberal di Indonesia

(Qodisiyah.com) Hidup di zaman yang penuh dengan kompleksitas ini, kewajiban untuk menguatkan iman, pandangan hidup dan ideologi sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi seluruh manusia sebagai bentuk filter terhadap gejolak perdagangan ideologi. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam telah memberikan gambaran akhir zaman
, bagi orang-orang yang memegang teguh keimanan bagaikan memegang bara api, cukuplah hal ini sebagai bukti nyata bahwa penjagaan terhadap iman dan pandangan hidup seorang muslim dipenuhi dengan rintangan besar, hingga membakar diri sendiri. Namun patut disadari bahwa perjuangan ini lebih mulia dan abadi serta berlipat ganjarannya daripada menggadaikan iman terhadap kenikmatan dunia yang sesaat. Tidak sedikit yang membeli kebebasan yang dianggapnya sebagai kebebasan, popularitas dan pandangan hidup dengan mengingkari fitrah sejatinya manusia, terlebih mereka mendapat dukungan istimewa atas pemuasan pemikirannya.

Nama Salman Rushdie melambung pada 26 November 1988, Viking Penguin menerbitkan novelnya berjudul The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel ini segera memicu kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia. Novel setebal 547 halaman ini, memuat beberapa penistaan terhadap Islam. Salah satu contohnya adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam, ditulis  oleh  Rushdie sebagai  ”Mahound, most pragmatic of Prophets.” Digambarkan sebuah lokasi pelacuran bernama The Curtain, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam. Istri Nabi yang mulia, Aisyah Radliyallahu anha, misalnya, ditulis oleh Rushdie  sebagai ”pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old where ’Ayesha’ was the most popular with the paying public, just as her namesake was with Mahound) (hal. 381). Dan dengan karyanya ini, ia dianugrahi gelar keagungan dari kerajaan Inggris.

Di sisi lain, dunia juga menyediakan segala fasilitas terhadap pemuasan kebebasan yang tak terarah ini melalui kebijakan dan legalitas yang diakui di mata dunia. Salah satu produk terbesarnya adalah HAM. Prof. Hamka pernah mengkaji secara khusus  Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM), yang ditetapkan PBB, pada 10 Desember 1948, dengan judul ”Perbandingan Antara Hak-hak Asasi Manusia Deklarasi PBB dan Islam”. Setelah membaca pasal-pasal dalam DUHAM, Buya Hamka sampai pada kesimpulan bahwa semua pasal itu layak untuk dibaca, meskipun anggota-anggota PBB itu sendiri masih banyak yang belum menjalankannya. ”Tetapi ayat 1 dari pasal 16 dan pasal 18 tidak bisa saya terima,” tulis penulis Tafsir al-Azhar ini.

Selanjutnya, Hamka menjelaskan sikapnya: ”Sebab apa saya tidak dapat menerimanya? Yang menyebabkan saya tidak dapat menerimanya ialah karena saya jadi orang Islam, bukanlah Islam statistik. Saya seorang Islam yang sadar, dan Islam saya pelajari dari sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan saya berpendapat bahwa saya baru dapat menerimanya kalau Islam ini saya tinggalkan, atau saya akui saja sebagai orang Islam, tetapi syari’atnya tidak saya jalankan atau saya bekukan.”  Pasal 16 ayat 1 DUHAM berbunyi: “Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian”.

  Menurut Buya Hamka, dalam Syari’at Islam, pembatasan karena suku dan kebangsaan tidak ada. Oleh karena itu hal ini sangat sesuai dengan Syari’at  Islam. Sebab apabila orang telah sama kepercayaannya dalam Islam, tergabunglah dia menjadi satu umat, yaitu umat Islam. Asal ada persesuaian kedua belah pihak, dan halal kawin menurut agama, karena tidak ada pelanggaran kepada ketentuan mendirikan rumah tangga.”Tetapi tentang agama, mesti ada pembatasan,”tegasnya. Pembatasan itu ditentukan oleh al-Qur’an dan al-Hadits. “Seorang laki-laki pezina tidaklah boleh mengawini kecuali perempuan yang pezina pula atau perempuan musyrik. Dan seorang perempuan pezina tidaklah boleh dinikahinya, kecuali laki-laki pezina atau musyrik, dan haram yang demikian itu atas orang-orang beriman”(Surat 24, an-Nuur ayat 3).

    Juga  dalam Surat al-Maidah ayat 51, dijelas-kan lagi: “Barangsiapa yang berpihak kepada mereka dari kalangan kamu, Maka dia itu telah termasuk golongan mereka.” Tegasnya di sini bahwa Muslim yang sejati, yang dikendalikan oleh imannya, kalau hendak mendirikan rumah tangga hendaklah dijaga kesucian budi dan kesucian  kepercayaan. Orang pezina jodohnya hanya pezina pula, orang musyrik, yaitu orang yang mempersekutukan yang lain dengan Tuhan Allah, jodohnya hanya sama-sama  musyrik pula. Di ujung ayat ditegaskan bahwa perkawinan di antara orang yang beriman dengan orang yang musyrik atau kafir adalah haram.” Umar bin Khattab,  Khalifah ketiga mengeluarkan ketentuan; “Laki-laki Muslim boleh kawin dengan  perempuan Nasrani, tetapi laki-laki Nasrani tidak boleh kawin dengan perempuan Islam.” Jabir bin Abdullah, seorang sahabat Anshar, mengatakan: “Perempuan Ahlul-Kitab halal bagi kita, dan perempuan kita haram atas mereka.”.

Meskipun laki-laki Muslim diperbolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), tetapi menurut Hamka, penguasa Islam berhak juga campur tangan. Seorang sahabat Nabi saw, Huzaifah bin Yaman, yang tinggal di Kaufah,  menikah dengan perempuan Yahudi. Setelah perkawinan ini  didengar  oleh  Khalifah  Umar, maka segera datang perintah beliau kepada Huzaifah: “Ceraikan perempuan  itu!  Dia adalah laksana batu api neraka buat  kamu!” Lalu Huzaifah bertanya:“Apakah itu berarti haram?” Umar menjawab: ”Haram tidak, tetapi aku takut yang engkau kawini itu perempuan lacur (Mumisat).” Di satu riwayat lagi tersebut jawaban Umar: “Aku takut akan dikatakan oleh orang-orang yang jahil, bahwa seorang sahabat Rasulullah Saw  telah kawin dengan seorang perempuan kafir, sedang eng-kau tinggal di negeri Majusi (Penyembah api).” Bahkan, sahabat Rasulullah saw sendiri, yaitu Abdullah bin Umar,  berpendapat bahwa Ahlul Kitab pun pada hakekatnya juga termasuk orang musyrik. Berpegang pada (QS al-Baqarah ayat 221), ia melarang orang mukmin kawin dengan perempuan musyrik. Kata Ibnu Umar: “Saya tidak tahu lagi syirik yang lebih besar dari pada kata  perempuan  itu, bahwa Tuhannya ialah Isa.”

Pasal lain yang ditolak oleh Buya Hamka adalah hak murtad, sebagaimana disebutkan dalam pasal 18 DUHAM:  “Setiap  orang  mempunyai  hak  untuk  berfikir,  berperasaan dan  beragama.  Hak  ini  meliputi kemerdekaan  untuk  menukar  agama  atau kepercayaan,  dan  kemerdekaan  baik  secara perseorangan  maupun  secara golongan, secara  terbuka  dan  tertutup,  untuk  memperlihatkan agama dan kepercayaannya dengan mengerjakannya, mempraktekkannya, menyembahnya dan meng-amalkannya.”   “Hak  ini  meliputi  kemerdekaan  untuk  menukar  agama  atau  kepercayaan.  Kata-kata ini  tidak dapat diterima oleh orang Islam, sebab sangat bertentangan dengan pokok dasar dan pegangan Agama Islam. Dalam Agama Islam, seorang yang meninggalkan Islam, sehingga tidak beragama sama sekali, atau pindah kepada agama lain; Murtad namanya,” tulis Hamka.  Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama ini juga mengajak umat Islam agar memperhatikan (QS al-Baqarah ayat 217):  “....Dan  mereka  akan  selalu memerangimu,  sampai  mereka  dapat  memalingkan  kamu  dari agama  kamu,  jika mereka bisa.  Dan  barangsiapa  yang  berpaling  (murtad)  di  antara  kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka meraka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat...”. Prinsip-prinsip hak asasi manusia  (HAM) dan nilai-nilai demokrasi,  perlu difilter kembali agar sesuai dengan denyut nadi Islam dan peradaban manusia yang manusiawi. (DM)
Ingin publikasikan tulisan di QODISIYAH.COM? Klik di sini!

No comments: